Sabtu, 07 November 2015

MAKALAH Inovasi Pembelajaran

MAKALAH
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING / PJBL) SEBAGAI UPAYA MENGEMBANGKAN HABIT OF MIND SISWA
Disusun untuk memenuhi Tugas Terstruktur

Mata Kuliah Inovasi Pembelajaran

Dosen Pengampu:
Eka Fitriah,S.Si,M.Pd










Disusun Oleh:

Dwi Ayu Ratnasari  
Dewi Nurftriani        



FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Mata Kuliah Inovasi Pembelajaran Biologi, shalawat serta salam semoga Allah tetap melimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya, sahabatnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Dalam makalah ini kami membahas tentang “Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PJBL) Sebagai Upaya Mengembangkan Habit Of Mind Siswa” yang bertujuan agar mahasiswa mengerti Inovasi Pembelajaran Biologi yang di gunakan dalam perkuliahan ini.  Penyusun ucapkan terima kasih kepada:
1.             Allah Yang Maha Esa, yang telah memudahkan dalam pembuatan makalah ini.
2.             Orang tua, yang telah mendoakan dan memberikan dukungan berupa materi dan nonmateri.
3.             Eka Fitriah,S.Si,M.Pd sebagai dosen mata kuliah Inovasi Pembelajaran Biologi, yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam pembuatan makalah ini.
4.             Rekan-rekan mahasiswa, yang telah membantu dalam bentuk apapun.
Penyusun makalah sangat menyadari bahwa makalah kami ini masih banyak kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritikan dan saran yang dapat membangun dan memperbaiki demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca.
                                                  Cirebon,  Februari 2015
                        Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A.            Latar Belakang
Model pembelajaran berbasis proyek adalah langkah – langkah pembelajaran berbasis untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang dilakukkan melalui suatu proyek dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan melalui langkah – langkah tertentu pula dan untuk menunjukan kapasitas yang sesungguhnya, selain itu model ini juga berfungsi untuk mengembangkan fungsi otak kanan dan otak kiri pada diri siswa.
Metode yang digunakan lebih berfokus pada proses belajar mengajar untuk bahan ajar dan tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan model pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa.
Ada beberapa hal yang mendasari pembelajaran berbasis proyek tepat diterapkan dalam diberlakunya kurikulum berbasis kompetensi. Hal itu disebabkan pertama selama ini pembelajaran berpusat pada guru sedangkan siswa hanya menjadi objek sehingga membuat siswa tidak dapat melihat alternative lain untuk dpat menyelesaikan masalahnya secara efektif dan efesien. Akhirnya siswa tidak dapat meng aplikatifkannya dan membuatnya hanya mampu dalam menghafal saja semua rumus,konsep tanpa memahaminya. Kedua, pembelajaran IPS ekonomi masih menerapkan konsep yang tradisional seperti menerangkan konsep, memberikan contoh kemudian memberikan siswa ltihan – latihan. Hal tersebut membuktikan bahwa guru lebih aktif dalam menerngkan materi dan siswa lebih pasif dalam pembelajaran. Oleh karena itu model pembelajaran berbasis proyek siswa diharapkan untuk mengembangkna sendiri pengetahuannya tanpa menghilangkan peran seorang guru sebagai fasilitator dan klarisifikator.
Di dalam proses belajar mengajar tercakup komponen, pendekatan, dan berbagai metode pengajaran yang dikembangkan dalam proses tersebut. Tujuan utama diselenggarakannya proses belajar adalah demi tercapainya tujuan pembelajaran. Dan tujuan tersebut utamanya adalah keberhasilan siswa dalam belajar dalam rangka pendidikan baik dalam suatu mata pelajaran maupun pendidikan pada umumnya. Jika guru terlibat didalamnya dengan segala macam metode yang dikembangkannyamaka yang berperan sebagai pengajar berfungsi sebagai pemimpin belajar atau fasilitator belajar, sedangkan siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar. Usaha-usaha guru dalam proses tersebut utamanya adalah membelajarkan siswa agar tujuan khusus belajar maupun umum proses belajar dapat tecapai.
Model pembelajaran berbasis proyek memberikan guru untuk meninggalkan pembelajaran tradisional untuk memberikan pembelajaran yang baik sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup sehingga tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dari setiap kompetensi dasar bisa tercapai dan siswa mampu melakukan belajar tuntas.

B.            Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pembelajaran berbasis proyek ?
2.      Bagaimana karakteristik pembelajaran berbasis proyek ?
3.      Apa penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning / PJBL) terhadap belajar siswa?


C.            Tujuan
1.      Mengetahui apa pengertian dari pembelajaran berbasis proyek.
2.      Mengetahui apa saja karakteristik dari pembelajaran berbasis proyek.
3.      Mengetahui penerapan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning / PJBL) terhadap belajar siswa


BAB II
PEMBAHASAN
A.       Metode Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PJBL)
Dalam rangka implementasi mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi,diperlukan pendekatan contextual teaching and  learning (CTL). Dimana, pendekatan berasumsi bahwa suatu konsep belajar guru perlu menghadirkan suasana dunia nyata kedalam kelas dan memberikan dorongan kepada siswa untuk membuat hubungan antara pengeahuan yang dimilikinya dengan konteks kehidupan sehari – hari.
Kegiatan pembelajaran ini dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui model pembelajaran ini, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing siswa dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi). Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung siswa dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Model pembelajaran yang dilakukan ini  merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi perhatian dan usaha peserta didik.
Model pembelajaran Proyek  merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Model pembelajaran berbasis proyek adalah langkah – langkah pembelajaran berbasis untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang dilakukkan melalui suatu proyek dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan melalui langkah – langkah tertentu pula dan untuk menunjukan kapasitas yang sesungguhnya, selain itu model ini juga berfungsi untuk mengembangkan fungsi otak kanan dan otak kiri pada diri siswa.
Metode yang digunakan lebih berfokus pada proses belajar mengajar untuk bahan ajar dan tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan model pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa.

B.       Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek adalah sebuah model yang inovatif, dan lebih menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Fokus pembelajaran terletak pada prinsip dan konsep inti dari suatu disiplin ilmu, melibatkan siswa dalam investigasi pemecahan masalah dan kegiatan tugas-tugas bermakna yang lain. Memberi kesempatan siswa bekerja secara otonom dalam mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri, dan mencapai puncaknya untuk menghasilkan produk nyata.
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang besar untuk memberi pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Biasanya memerlukan beberapa tahapan dan beberapa durasi. Tidak hanya sekedar merupakan rangkaian pertemuan kelas, serta belajar kelompok kolaboratif. Pembelajaran berbasis proyek memfokuskan pada pengembangan produk atau unjuk kerja (performance),yang secara umum melakukan kegiatan seperti berikut
1.             Mengorganisasi kegiatan belajar kelompok mereka
2.             Melakukan pengkajian atau penelitian
3.             Memecahkan masalah
4.             Mensintesis informasi
Pembelajaran berbasis proyek memiliki potensi yang amat besar untuk membuat pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna untuk pelajar usia dewasa, seeperti siswa, apakah mereka sedang belajar di perguruan tinggi maupun pelatihan transisionaluntuk memasuki lapangan kerja.
Di dalam pembelajaran berbasis proyek, pelajar menjadi terdorong untuk lebih aktif dalam belajar sendiri. Instruktur berposisi di belakang dan pelajar berinisiatif. Instruktur member kemudahan dan mengevaluasi proyek baik kebermaknaannya maupun penerapan untuk kehidupan mereka sehari hari. Sesuatu yang dibuat pelajar selama berjalan di ukur oleh guru atau instruktur dalam pembelajarannya. Oleh karena itu, dalam pembelajaran berbasis proyek guru tidak lebih aktif dan melatih secara langsung, akan tetapi hanya menjadi pendamping dan fasilitator.
Pendekatan pembelajaran berbasis proyek (project based learning ini mirip dengan pendekatan belajar berbasis masalah (problem based learning). Karena kemiripannya itu, dalam literatur istilahnya seringkali dipertukarbalikan. Keduanya menekankan lingkungan belajar siswa aktif, kerja kelompok (kolaboratif), dan teknik evaluasi otentik (authentic assessment). Perbedaannya terletak pada objek. Jika dalam problem based learning, pelajar ebih didorong dalam kegiatan yang memerlukan perumusan masalah, pengumpulan data, dan analisis data. Maka dalam project based learning pelajar lebih didorong pada kegiatan desain, merumuskan pekerjaan, merancang (designing), mengkalkulasi, melaksanakan pekerjaan, dan mengevaluasi hasil.
Seperti didefinisikan oleh Buck Institute of Education (1999), bahwa pembelajaran berbasis proyek memliki karakteristik sebagai berikut.
1.             Pelajar membuat keputusan dan membuat kerangka kerja.
2.             Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan sebelumnya.
3.             Pelajar merancang proses untuk mencapai hasil.
4.             Pelajar bertanggung jawab untuk mendapatkan mendapatkan dan mengelola informasi yang dikumpulkan.
5.             Melakukan evaluasi secara kontinu.
6.             Pelajar secara teratur melihat kembali apa yang mereka telah kerjakan.
7.             Hasil akhir berupa produk yang telah di evaluasi.
Oakey (1998) mempertegas konsep dan karakteristik project based leaning dengan membedakannya dengan problem based learning yang seringkali saling dipertukarkan dalam penggunaan istilah ini. Istilah project based learning dan problem based learning masing-masing digunakan untuk menyatakan strategi pembelajaran. Kemiripan kedua konsep pembelajaran itu dan penggunaan singkatan yang sama menghasilkan kerancuan didalam literatur dan penelitian, meskipun sebenarnya diantara keduanya berbeda.
Project based learning dan problem based learning memiliki beberapa kesamaan karakteristik. Keduanya adalah strategi pembelajaran yang dimaksudkan untuk melibatkan pelajar didalam tugas-tugas otentik dan dunia nyata agar dapat memperluas belajar mereka. Pelajar diberi tugas proyek atau problem yang open-ended dengan lebih dari satu pendekatan atau jawaban, yang menstimulasikan situasi professional. Kedua pendekatan ini juga didefinisikan sebagai student-centered, dan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator. Pelajar dilibatkan dalam project atau problem based learning yang secara umum bekerja di dalam kelompok secara kolaboratif, dan di dorong mencari berbagai sumber informasi yang berhubungan dengan proyek atau problem yang dikerjakan. Pendekatkan ini menekankan pengukuran hasil belajar otentik dan dengan basis unjuk kerja (performance-based assessment).
Proyek dalam pembelajaran berbasis proyek merupakan pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum. Di dalam pembelajaran berbasis proyek, proyek adalah strategi pembelajaran. Pelajar mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Ada kerja proyek yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara memberi ilustrasi. Contoh, praktik tambahan, atau aplikasi praktik yang diajarkan sebelumnya dengan maskud lain. Akan tetapi menurut criteria diatas, aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai pembelajaran berbasis proyek. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk pengayaan diluar kurikulum juga tidak termasuk pembelajaran berbasis proyek.
Proyek dalam pembelajaran berbasis proyek adalah terfokus pada pertanyaan atau masalah yang mendorong pelajar menjalani dengan keja keras. Konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Kriteria ini sangat halus dan agak susah diraba. Definisi proyek bagi pelajar harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatar belakanginya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam.
Proyek melibatkan pelajar dalam investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses desain, penemuan masalah, pemecahan masalah, discovery, atau proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek memenuhi kriteria pembelajaran berbasis proyek, aktivitas inti dari proyek itu harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuanpada pihak pelajar. Jika pusat atau inti kegiatan proyek tidak menyajikan tingkat kesulitan bagi anak, atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap dipelajari. Proyek yang dimaksud adalah tidak lebih dari sebuah latihan, dan bukan proyek pembelajaran berbasis proyek.
Pembelajaran berbasis proyek bisa menjadi bersifat revolusioner di dalam isu pembaruan pembelajaran. Proyek dapat mengubah hakikat hubungan antara guru dan pebelajar. Proyek dapat mereduksi kompetisi di dalam kelas dan mengarahkan pebelajar lebih kolaboratif daripada kerja sendiri-sendiri. Proyek juga dapat menggeser fokus pembelajaran dari mengingat fakta ke eksplorasi ide.

C.       Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning / PJBL) Terhadap Belajar Siswa
Pembelajaran adalah sebuah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa.
Dalam pembelajaran ada model pembelajaran. Istilah model pembelajaran sangat dekat dengan pengertian stategi pembelajaran. Meskipun demikian, pengertian model pembelajaran ini dibedakan dari pengertian strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada suatu strategi, metode, dan teknik. Secara sederhana, pendekatan pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai proses belajar siswa yang sedang berkembang untuk mencapai perkembangannya.
Metode yang digunakan lebih berfokus pada proses belajar mengajar untuk bahan ajar dan tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan model pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa.
Model pembelajaran dapat dedefinisikan sebagai sebuah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belejar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Dengan demikian aktivitas pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang tertata secara sistematis. Pemilihan model pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran dan karakteristik setiap kompetensi dasar yang disajikan. Tidak semua model pembelajarn cocok untuk setiap kompetensi dasar. Guru perlu memilih dan menentukan mosdel pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa.
Untuk penerapan belajar menggunakan pembelajaran berbasis proyek (PJBL) terhadap siswa agar lebih meneyenangkan, tentu para guru harus memikirkan bagaimana agar suasana belajar lebih menyenangkan dan hidup.
Model pembelajaran Proyek  merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Model pembelajaran ini menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. Kegiatan pembelajaran ini dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan siswa dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui model pembelajaran ini, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi). Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung siswa dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. Model pembelajaran yang dilakukan ini  merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi perhatian dan usaha siswa.
Dari pengertian diatas, kita tentu dapat mensiasati bagaimana caranya agar siswa berasumsi bahwa pelajaran tertentu tidak menjadi mata pelajaran yang menakutkan tetapi menjadi menyenangkan. Dengan menggunakan pembelajaran berbasis proyek, kita bisa melakukan pembelajaran dengan kegiatan sehingga proses pembelajaran akan lebih menarik.
























BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Model pembelajaran berbasis proyek  merupakan model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Guru menugaskan siswa untuk melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar.
Model pembelajaran berbasis proyek adalah langkah – langkah pembelajaran berbasis untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu yang dilakukkan melalui suatu proyek dalam jangka waktu tertentu yang dilakukan melalui langkah – langkah tertentu pula dan untuk menunjukan kapasitas yang sesungguhnya, selain itu model ini juga berfungsi untuk mengembangkan fungsi otak kanan dan otak kiri pada diri siswa.
Metode yang digunakan lebih berfokus pada proses belajar mengajar untuk bahan ajar dan tujuan pembelajaran tertentu. Sedangkan model pembelajaran lebih melihat pembelajaran sebagai suatu desain yang menggambarkan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa.
Model pembelajaran adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh pelaksana pembelajaran. Tentu banyak unsur pelaksanaan pembelajaran, namun model pembelajaran merupakan satu unsur pembelajaran yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian lebih. Pada kurikulum tersebut dikembangkan tiga model pembelajaran yaitu model pembelajaran discovery learning, model pembelajaran berbasis masalah, dan model pembelajaran proyek. Masing-masing model pembelajaran tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan. Namun guru tidak perlu memperuncing kekurangn-kekurangan pada masing-masing model pembelajarn yang dimaksud. Hal yang penting bagi guru adalah memahami, menerapkan dan mengembangkan masing-masing model pembelajaran ini sehingga proses pembelajaran menjadi efektif dan efesien serta berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Guru perlu melakukan inovasi-inovasi dari tiga model pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah dan kelas serta saranan prasarana yang ada.
Penerapan belajar menggunakan pembelajaran berbasis proyek (PJBL) terhadap siswa agar lebih meneyenangkan, menuntut guru untuk membawa realita sehari – hari kedalam kelas agar pembelajaran tidak berpusat lagi pada guru dan siswa hanya menjadi objek sehingga membuat siswa tidak dapat melihat alternative lain untuk dapat menyelesaikan masalahnya secara efektif dan efesien.
Oleh karena itu model pembelajaran berbasis proyek siswa diharapkan untuk mengembangkna sendiri pengetahuannya tanpa menghilangkan peran seorang guru sebagai fasilitator dan klarisifikator.



















DAFTAR PUSTAKA
Endah, purworini. 2004. Pembelajaran Berbasis Proyek Sebagai Upaya Mengembangkan Habit of Mind.

ChanLin, Lih-Juan. 2008. Technology Integration Applied To Project-Based Learning In Science. Innovations in Education and Teaching International. Taiwan. Department of Library & Information Science.

Artikel "Menilik Khasiat Tanaman Betadine"

Subhanallah,,,
Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua makhluknya (manusia, hewan dan tumbuhan), dan Allah tidak menciptakan sesuatu pun di Dunia ini dengan sia-sia, semua pasti ada manfaatnya, begitupun dengan tanaman ini. Di dalam Al Qur’an banyak disebutkan tentang penciptaan makhluk di Dunia, diantaranya

أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الْأَرْضِ كَمْ أَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ
Artinya :
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. Asy Syu’ara : 7
T

anaman betadin, tanaman yang daun maupun tangkai daunnya menyerupai ketela pohon. Pola daun menjari, pada pangkal tangkai daun akan mengeluarkan getah yang bening.
Tanaman herbal ini sudah banyak ditemukan di pekarangan atau kebun apotik hidup keluarga. Meskipun daunnya mirip daun ketela pohon, namun tidak lazim digunakan sebagai sayur. Yang dimanfaatkan adalah getah yang keluar dari pangkal tangkai daun.

D
aun ini biasa digunakan untuk pertolongan pertama pada luka ringan. Misalnya; luka pada kaki atau tangan anak karena terjatuh sehingga lecet. Luka akibat garukan kuku yang terlalu kencang pada kulit, juga bisa diobati dengan getah daun betadin ini.
A
mbil satu tangkai daun betadin, jangan daun yang terlalu muda atau tua. Lalu, getah yang mengalir pada tangkai daun dioleskan pada luka yang telah dibersihkan. Memang agak perih ketika bagian yang luka diolesi getah betadin. Namun keadaan itu berlangsung beberapa menit saja. Setelah itu rasa perih akan hilang dan bagian yang luka bakal sembuh.

Batang tanaman Jatropha multifida Linn mengandung senyawa flavonoid.  kandungan senyawa Flavonoid di dalam tanaman betadine ini yang bisa menyembuhkan luka. Luka yang bisa disembuhkan umumnya adalah luka ringan seperti tergores bambu, tergores pisau, luka akibat jatuh, dan lain-lain.

F
lavonoid, juga dikenal sebagai bioflavonoid adalah kelas phytochemical yang hanya bisa disintesis oleh tanaman. Flavonoid merupakan pigmen penting yang bertanggung jawab pada pigmentasi kelopak bunga.
Flavonoid tanaman betadine mampu bertindak sebagai antioksidan dan berfungsi menetralisir radikal bebas dan dengan demikian meminimalkan efek kerusakan pada sel dan jaringan tubuh. Radikal bebas adalah molekul yang sangat reaktif dan tidak stabil akibat telah kehilangan elektron.
Flavonoid sebagai antioksidan membantu menetralisir dan menstabilkan radikal bebas sehingga tidak lagi merusak sel-sel dan jaringan sehat.








Dwi Ayu Ratnasari
Biologi A/VI
- See more at: http://www.sentulfresh.com/tanaman-betadine/#sthash.MNZGy9GC.dpuf

Artikel Pemanfaatan Limbah Udang sebagai Bahan Alternatif Pengawet

L
imbah udang yang berupa kulit, kepala dan ekor dengan mudah didapatkan. Dalam limbah tersebut mengandung senyawa kimia yang berupa kitin dan kitosan. Senyawa ini dapat diolah karena hal ini dimungkinkan karena kitin dan kitosan mempunyai sifat sebagai bahan pengemulsi koagulasi, reaktifikasi kimia yang tinggi dan menyebabkan sifat polielektrolit kation sehingga dapat berperan sebagai penukaran ion dan dapat berfungsi sebagai absorben logam berat dalam air limbah
Dalam pembuatan  dari limbah udang dapat dilakukan melalui tiga tahap yaitu proses deproteinasi, proses demineralisasi dan proses deasetilasi. Penghilangan protein melalui proses kimia (deproteinasi) dilakukan dengan menggunakan larutan NaOH 5%. Penghilangan kandungan mineral melalui proses kimiawi (demineralisasi) dilakukan dengan menggunakan larutan HCl 1N, sedangkan deasetilasi dilakukan dengan cara pemanasan dengan menggunakan NaOH 50%.            Tetapi salah satu kelebihan lainya dari kitin dan kitosan adalah kitosan dapat digunakan sebagai pengawet bahan makanan yang tidak berbahaya untuk dikonsumsi yaitu dengan menggunakan bahan kimia (NaOH dan HCl) yang minimal. Pemanfaatan limbah tersebut diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan baku industri khususnya di bidang pangan, dan juga layak dikonsumsi sebagai pengawet bahan makanan yang tidak berbahaya bagi tubuh.
            Proses deproteinasi dilakukan dengan cara tepung limbah udang dengan berat tertentu, dimasukkan dalam labu leher tiga dengan penambahan NaOH 5% dengan volume tertentu. Perbandingan antara berat limbah udang dengan volume NaOH 5% adalah 1:15 (weight/volume). Ekstraksi dilakukan selama 2 jam pada suhu 100ºC untuk menghilangkan kandungan proteinnya. Hasil deproteinasi lalu disaring untuk diambil residunya dan dicuci menggunakan air sampai pH netral, kemudian residu dikeringkan dalam oven dengan suhu 600C.
Proses demineralisasi, residu hasil deproteinasi yang telah dicuci sampai pH netral dan dikeringkan dimasukkan ke dalam labu leher tiga dengan penambahan  HCl 1N dengan volume tertentu. Ekstraksi dilakukan selama 1 jam pada suhu 80ºC untuk menghilangkan kandungan mineralnya. Hasil demineralisasi lalu disaring untuk diambil residunya dan dicuci menggunakan air sampai pH netral, kemudian residu dikeringkan dalam oven. Residu hasil demineralisasi yang telah dikeringkan disebut kitin.
Proses deasetilasi yaitu mengubah kitin menjadi kitosan , kitin dimasukkan ke dalam labu leher tiga dengan penambahan NaOH 40% dengan volume tertentu. Ekstraksi dilakukan selama 2 jam pada suhu 110ºC. Hasil deasetilasi lalu disaring untuk diambil residunya dan dicuci menggunakan air sampai pH netral, kemudian residu dikeringkan dalam oven. Residu dari hasil deasetilasi inilah yang disebut kitosan. Kemudian hasil dianalisis derajat deasetilasi, kadar abu, kelarutan, dan viskositasnya untuk mengetahui mutu kitosan .
Kemampuan dalam menekan pertumbuhan bakteri disebabkan kitosan  memiliki polikation bermuatan positif yang manpu menghambat pertumbuhan bakteri sehingga baik digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Indikator parameter daya awet hasil pengujian dengan menggunakan limbah udang antara lain :
1.     Keefektifan dalam mengurangi jumlah lalat yang hinggap.
2.     Keunggulan dalam uji mutu penampakan dan rasa, dimana hasil riset, menunjukkan penampakan ikan asin dengan coating chitosan lebih baik bila dibandingkan dengan ikan asin kontrol (tanpa formalin dan kitosan ) Keefektifan dalam menghambat pertumbuhan bakteri, dimana nilai TPC (bakteri) sampai pada minggu kedelapan perlakuan, pelapisan kitosan  masih sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) ikan asin, yakni dibawah 1 x 105 (100 ribu koloni per gram).

3.     Kadar air, di mana perlakuan dengan pelapisan kitosan  sampai delapan minggu menunjukkan kemampuan kitosan  dalam mengikat air.